Kegagalan yang menimpa meruapakan hal yang tidak pernah dibayangkan oleh seorang mahasiswa yang belajar selama beberapa tahun dengan mengorbankan sumberdaya yang dimiliki.
Untuk menghindari kegagalan seharusnya mahasiswa mempersiapan sebagai berikut.
1. Belajar yang baik, merupakan tugas seorang mahasiswa untuk belajar sebaik-baiknya. Belajar yang baik harus memiliki strategi, tidak cukup hanya mendengarkan atau mencatat tetapi harus dilakukan dengan cara menggunakan semua potensi dan indra yang ada. Tehnik belajar yang baik akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.
2. Pahami blueprint uji kompetensi, memahami blueprint uji kompetensi merupakan hal penting karena apa saja yang harus dipelajari ada di blueprint uji kompetensi ners dan perawat. Wajib memahami blueprint.
3. Latihan dengan soal standar uji kompetensi, tidak semua mahasiswa mempunyai dan menggunakan soal standar uji kompetensi untuk berlatih. Yang menyebabkan kaget saat uji kompetensi. Kaget karena penulisan soal, jumlah kata dan banyak jebakan serta jawaban dirasakan benar semua.
4. Belajar bersama setelah sebelum membaca materi yang akan dibahas, belajar bersama baik akan tetapi kalau belajar bersama tidak membaca materi yang akan dipelajari sama dengan buang buang waktu.
5. Mengikuti try out untuk mengukur kemampuan dan mengenal sistem serta menentukan strategi belajar.
6. Belajar dengan menggunakan buku sumber yang baik, tidak semua buku yang beredar memenuhi standar uji kompetensi
7. Minta soal yang sudah direview oleh dosen, tentu dosen memiliki contoh soal yang baik, karena biasanya dosen membuat soal uji kompetensi yang akan disetor ke bank soal wilayah dan nasional.
Kegagalan dalam ukom merupakan kegagalan pendidikan yang dilakukan selama ini. Pada seri pertama saya sudah menjelaskan apa yang harus dilakukan supaya terhindar dari tidak kompeten.
Beberapa triks dan tips yang bisa digunakan, untuk mengurangi kemungkinan gagal dalam uji kompetensi pada saat pelaksanaan yaitu
1. Patuhi tata tertib cara berpakaian, di uji kompetensi pakaian sudah ditentukan, dan diberitahu saat briefing.
2. Datang briefing sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Briefing dilakukan untuk mahasiswa dan pengawas lokal yang diberikan oleh pengawas pusat, sebagai perpanjangan panitia uji kompetensi. Briefing sifatnya wajib, yang tidak mengikuti briefing tidak diperkenankan untuk mengikuti uji kompetensi, baik untuk pengawas maupun untuk mahasiswa.
3. Datang ketempat ujian sesuai dengan waktu yang ditentukan. Waktu datang ke tempat ujian sejam sebelumnya. Walaupun di tata tertib disebutkan bahwa mahasiswa boleh masuk pada saat sebelum log in yang kedua, bagi yang menggunakan computer based test, akan tetapi akan lebih baik apabila datang lebih awal. Datang lebih awal memiliki keuntungan diantaranya, dapat istiraha terlebih dahulu, mengenal tempat ujian lebih dalam terutama bagi yang ujiannya tidak di kampus sendiri.
4. Datang sebelum log in kedua (pada ujian Computer Based Test), seperti yang sudah dijelaskan pada no sebelumnya.
5. Gunakan pensil 2b (pada ujian Paper Based Test), bawa pensil 2b lebih dari satu. Runcingkan kedua ujungnya. Sehingga jika tumpul masih ada ujung yang lain dan tidak kehilangan waktu. Jika memungkinkan, tannyakan kepada pengawas pusat, apakah menggunakan pensil mekanik diperkenankan? Jika diperkenankan bawalah, gunakan pensil mekanik, krn anda tidak akan kehilangan waktu untuk meraut atau menajamkan pensil dan pekerjaan biasanya lebih rapi.
6. Pastikan semua jawaban diisi, walaupun nembak. Menjawab soal semuanya memberikan peluang yang tinggi untuk mendapatkan nilai. Di uji kompetensi tidak mengenal pengurangan nilai kalau salah. Jadi isi semua, walupun anda harus menembak. Gunakan insting dalam menjawab, insting yang pertama biasanya benar. Jangan dirubah sampai anda yakin mendapatkan jawaban yang 100% benar.
7. Tandai jawaban yang masih ragu-ragu, yang ragu ragu dianggap sudah di isi. Pastikan anda mengganti soal ragu-ragu setelah mendapatkan keyakinan bahwa jawaban ragu ragu salah dan anda sudah mendapatkan jawaban yang benar.
8. Jika dalam 20 detik tidak bisa memahami maksud soal, segera pindah, terlalu lama pada soal yang tidak dimengerti, akan menyebabkan anda kehilangan waktu banyak, dan yang mudah akan anda lewatkan, dan yang paling penting anda akan mengalami kecemasan, karena kecemasan itu maka soal berikutnya yang mudah akan menjadi sulit.
9. Isi dulu jawaban yang mudah, mengisi yang mudah memberikan peluang rasa senang kepada diri anda dan menyebabkan stress berkurang.
Dapatkan tips triks uji kompetensi selanjutnya dengan gabung di channel telegram @infokanduru
Tuesday, 19 June 2018
Sunday, 8 April 2018
Pertanyaan Yang Sering Di Ajukan Mahasiswa Tentang Uji Kompetensi
1.
Apakah
bisa mendapatkan status kompeten dengan jalan belakang?
Tidak bisa, uji
kompetensi dirancang untuk menentukan tenaga kesehatan yang memiliki
kualifikasi minimal untuk menjadi tenaga kesehatan yang akan memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Akan sangat berbahaya apabila orang yang tidak
kompeten memberikan pelayanan kepada masyarakat.
2.
Mahasiswa
sudah melewati proses akademik dan atau profesi, dan sudah dinyatakan lulus
secara institusi mengapa harus ada uji kompetensi lagi?
Memang benar
mahasiswa sudah lulus dari institusinya, akan tetapi aturan menghendaki
mahasiswa yang baru lulus harus mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan
sertifikat uji kompetensi sebagai syarat untuk mendapatkan Surat Tanda
Registrasi (STR) sebagai tenaga kesehatan baru.
3.
Apakah
yang tidak kompeten setelah mengikuti uji kompetensi lebih dari 5 kali akan
mendapatkan pemutihan?
Sampai saat ini
tidak ada program pemutihan bagi mahasiswa yang belum kompeten, walaupun sudah
beberapa kali mengikuti uji kompetensi.
4.
Apakah
ada batasan untuk mengikuti uji kompetensi?
Tidak ada,
selama masih ingin menjadi tenaga kesehatan dan bekerja di instansi kesehatan,
maka yang bersangkutan bisa mengikuti uji kompetensi.
5.
Apakah
tidak ada kebijakan lain, bagi perawat yang hampir pensiun?
Tidak ada,
mengikuti uji kompetensi merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan status
kompeten. Pensiun atau purna tugas bukan berarti yang bersangkutan berhenti
dari profesinya, dengan memiliki STR maka seseorang masih dapat bekerja di
tatanan kesehatan lainnya.
6.
Apakah
uji kompetensi bisa diganti dengan ujian lain?
Untuk mahasiswa
mulai tahun 2013, uji kompetensi hanya dilakukan dengan mengikuti uji
kompetensi seperti saat ini. Uji kompetensi saat ini hanya dilakukan melalui
dua cara yaitu Paper Base Test (PBT)
dan Computer Base Test (CBT). Kedepan
pemerintah sudah merencanakan untuk menambah jenis ujian dengan dimasukannya Objective Structure Clinical Examination
(OSCE) atau ujian praktek.
7.
Apakah
ada kisi-kisi soal uji kompetensi?
Ada, yaitu blueprint uji kompetensi. Blueprint
digunakan dalam membuat paket soal yang akan diujikan, membuat soal dari sejak
tingkat perguruan tinggi, panduan mahasiswa dalam menentukan strategi dan
materi belajar untuk menghadapi uji kompetensi (lampiran).
8.
Apakah
dibolehkan tidak mengikuti briefing?
Briefing
merupakan kewajiban yang harus diikuti peserta yang akan try out maupun yang
akan melaksanakan uji kompetensi. Brifieng tidak hanya untuk perserta tetepi
juga bagi komponen ujian lainnya seperti pengawas lokal, koordinator cbt,
petugas teknologi informasi. Peserta yang tidka mengikuti briefing tidak
diperkenankan mengikuti uji kompetensi.
9.
Apakah
bisa pindah tempat uji kompetensi?
Bisa, proses
kepindahan dapat dilakukan dengan mengajukan tempat uji kompetensi oleh kampus
kepada panitia uji kompetensi, setelah pendaftaran uji kompetensi dibuka.
Alasan kepindahan biasanya karena tempat uji kompetensi terlalu jauh dari
tempat tinggal sekarang. Misalnya mahasiswa yang kuliah di Pulau Jawa yang
berasal dari luar jawa dapat mengajukan perpindahan tempat ujian. Dengan
syarat, tempat yang dituju tidak penuh.
Bisa, kompeten atau tidak tergantung dari usaha yang bersangkutan dalam mempersiapkan uji kompetensi. Beberapa penelitian menunjukan bahwa orang yang pernah uji kompetensi dan gagal, tingkat kelulusannya hanya 5 – 16%. Sementara orang yang tidak kompeten saat di try out, tingkat kelulusannya hanya 10%. Akan tetapi dengan belajar benar tingkat kelulusan ini dapat ditingkatkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 105 mahasiswa yang mengikuti survey, ini gambaran pada uji kompetensi yang keberapa mereka kompeten. Gambar 1 dibawah ini menunjukan bahwa yang lebih banyak kompeten adalah orang yang pernah mengikuti uji kompetensi lebih dari 2 kali. Dengan kata lain, mahasiswa yang mau belajar, tidak peduli berapa kali sebelumnya mengikuti uji kompetensi, mereka bisa kompeten.
Monday, 26 February 2018
Strategi belajar yang salah bisa membuat tidak kompeten
x
Kegagalan dalam uji kompetensi bukan
karena yang bersangkutan yang tidak belajar, akan tetapi karerena mereka
belajar yang salah. Beberapa strategi belajar yang salah
diantaranya:
a. Terlalu menekankan kepada
tanya jawab atau membahas soal-soal, sementara
pemahaman terhadap materi sangat kurang. Jika terpaksa anda harus belajar
dengan cara tanya jawab, lakukanlah! Itu lebih baik daripada anda tidak belajar
sama sekali. Tapi, ingat buat catatan dari tanya jawab tersebut, terutama
hal-hal yang belum anda mengerti, kemudian cari sumber bacaan dari masalah yang
sedang dihadapi tersebut.
b. Tidak memiliki dasar
pemahaman yang kuat, tetapi memilih untuk
diskusi yang akhirnya diskusi melenceng.
c. Diskusi yang tidak
didasarkan kepada kemampuan sendiri
akan menyebabkan nilai anda tidak pernah naik, gunakan diskusi untuk
meningkatkan pemahaman. Gampangnya tanya pada orang lain apa yang anda tidak
mengerti atau tidak faham, tidak usah mendiskusikan sesuatu yang sudah anda
mengerti, kecuali anda diminta untuk menjelaskan pemahaman anda tentang sebuah
permasalahan.
d. Membahas soal soal yang tidak
terstandarisasi uji kompetensi, misalnya
menggunakan buku soal yang mengacu kepada ujian perawat luar negeri. Banyak buku yang menjelaskan
dan memaparkan soal-soal uji kompetensi, akan tetapi tidak semua buku menganut
kepada kaidah penulisan soal yang sudah di berikan oleh panitia uji kompetensi
nasional. Hati-hati dalam menggunakan sumber, lebih baik anda minta kepada
dosen contoh-contoh soal yang sudah di review atau tanya orang yang pakar di
bidang itu.
e. Tidak memiliki catatan yang
baik merupakan kendala dalam belajar, sehingga
tidak bisa mengetahui apa yang sudah dipelajari dan apa yang belum dipelajari.
Buatlah catatan seringkas mungkin dengan metode yang telah teruji dapat
meningkatkan pemahaman dalam belajar. Penulis menganjurkan anda untuk
menggunakan mind mapping dari Tonny Buzzan.
Terlalu tergesa-gesa menyebabkan kerugian
x
Sifat yang terlalu tergesa-gesa dapat
menyebabkan seseorang tidak cermat dalam memilih jawaban. Pengalaman mahasiswa menunjukan bahwa ketergesaan ini
dapat menyebabkan pengamatan terhadap data menjadi tidak cermat. Ketergesaan
ini juga disebabkan mahasiswa pernah mendapatkan soal yang mirip sebelumnya
dalam latihan, akan tetapi perlu diingat, kemungkinan penambahan data yang
dilakukan pembuat soal bisa saja terjadi sehingga kecermatan dalam menjawab
perlu dilakukan. Bagaimana cara menghindarinya? Terdapat
beberapa tindakan untuk menghindari ketergesaan kita, yaitu:
a. Focus kepada soal yang
sedang dihadapi
b. Ingat sebuah soal didesain
untuk dikerjakan dalam waktu 1 menit.
c. Baca pertanyaan yang diminta
oleh soal, kemudian baca kasusnya. Mengapa harus
membaca pertanyaannya terlebih dahulu? Supaya tidak 2 (dua) kali membaca kasus.
Misalnya, pada saat pertanyaan meminta apa yang dilakukan pada saat pengkajian,
mau tidak mau kita harus membaca dengan teliti apa yang sudah dilakukan dana
apa yang belum dilakukan.
d. Tentukan masalahnya apa dari
setiap kasus. Sebuah soal kadang bertanya tentang
apakah evaluasi keperawatan yang harus dilakukan, padahal tidak disebutkan
masalah utama yang ada pada soal tersebut. Jika anda tidak mengetahui masalah
yang utama (prioritas) maka anda akan salah dalam menjawab. Sangat penting
memahami apa masalah apa yang ada dalam kasus tersebut.
e. Jangan membuat interpretasi
pada sebuah soal, gunakan saja data yang ada di soal
tersebut. Kesalahan terbesar dalam menjawab soal uji kompetensi adalah membuat
interpretasi, atau menambahkan data berdasarkan pengetahuan sendiri, padahal
untuk menjawab pertanyaan penulis soal telah memberikan data yang cukup, tidak perlu
penambahan data yang lainnya. Soal yang datanya kurang akan gugur dengan
sendirinya pada saat soal itu di review atau soal itu diuji cobakan (try out).
f. Jawablah sesuai dengan
pertanyaan, Menjawab
sesuai pertanyaan yang diminta, jawaban yang benar hanya ada satu dan yang
lainnya merupakan distraktor atau pengecoh. Hati-hati dalam menjawab, tapi
jangan pernah meninggalkan atau tidak memberikan jawaban. Semua soal harus
dijawab, tidak boleh ditinggalkan kosong begitu saja, karena dengan mengisi
berarti memiliki peluang sebanyak 20% untuk benar dibandingkan dengan tidak
diberikan jawaban.
Sunday, 25 February 2018
Penyebab Kegagalan di Ukom
Berlatih dengan sumber yang kurang tepat
Dalam menjawab soal uji kompetensi mahasiswa
perlu latihan mengenal soal-soal yang baik yaitu yang memiliki standar yang
sama dengan soal yang akan mereka hadapi di uji kompetensi nanti. Akan tetapi
pada kenyataanya tidak semua mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berlatih
dengan soal seperti itu. Mereka banyak berlatih menggunakan sumber yang kurang
tepat. Apa yang dimaksud dengan sumber kurang tepat? Yang dimaksud dengan
sumber yang kurang tepat adalah belajar dengan menggunakan soal-soal yang belum
direview atau menggunakan buku yang
tidak menggunakan standar penulisan yang telah ditentukan. Mahasiswa dapat mendapatkan soal yang sudah direview dari dosen yang
mengikuti kegiatan review di regional. Karena biasanya diregional suka diadakan
kegiatan untuk mereview soal, dan soal itu diberikan kepada dosen-dosen yang
mengikuti kegiatan review tersebut.
Sombong
Mengecilkan atau memandang remeh uji
kompetensi merupakan tindakan yang sombong. Contoh; datang dengan menggunakan
pakaian yang tidak sesuai dengan standar uji kompetensi, dan hasilnya disuruh
pulang oleh pengawas.
Kurang Percaya Diri
Kita kadang mendapatkan kenyataan, mahasiswa
A terkenal pintar di kampusnya, IPK nya tinggi, akan tetapi tidak lulus saat uji
kompetensi. Salah satu penyebabnya adalah kurang percaya diri, mudah gugup.
Apalagi tempat uji kompetensinya tidak dikampus sendiri. Yang diperlukan untuk
menghadapi uji kompetensi bukan hanya kemampuan keilmuan akan tetapi lebih
banyak kepada kemampuan mengelola stress yang dihadapi.
Tidak mengetahui cara membaca soal
Soal dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
memisahkan mana yang kompeten mana yang tidak kompeten.
Soal uji kompetensi memiliki ketentuan dalam penulisan,
jumlah kata, data utama vs data distraktor. Kesemua ini merupakan kesengajaan.
Terlalu tergesa-gesa
Sifat yang terlalu tergesa-gesa dapat
menyebabkan seseorang tidak cermat dalam memilih jawaban. Bagaimana cara
menghindarinya? Terdapat beberapa tindakan untuk menghindari ketergesaan kita,
yaitu:
a. Focus kepada soal yang sedang dihadapi
b.
Ingat
sebuah soal didesain untuk dikerjakan dalam waktu 1 menit.
c.
Baca dengan teliti pertanyaannya baru kemudian kasusnya
d.
Baca
pertanyaan yang diminta oleh soal, kemudian baca kasusnya. Mengapa
harus membaca pertanyaannya terlebih dahulu? Supaya tidak 2 (dua) kali membaca
kasus. Misalnya, pada saat pertanyaan meminta apa yang dilakukan pada saat
pengkajian, mau tidak mau kita harus membaca dengan teliti apa yang sudah
dilakukan dana apa yang belum dilakukan.
e.
Tentukan
masalahnya apa dari setiap kasus. Sebuah soal kadang bertanya tentang
apakah evaluasi keperawatan yang harus dilakukan, padahal tidak disebutkan
masalah utama yang ada pada soal tersebut. Jika anda tidak mengetahui masalah
yang utama (prioritas) maka anda akan salah dalam menjawab. Sangat penting
memahami apa masalah apa yang ada dalam kasus tersebut.
f.
Jangan
membuat interpretasi pada sebuah soal, gunakan saja data
yang ada di soal tersebut. Kesalahan terbesar dalam menjawab soal uji
kompetensi adalah membuat interpretasi, atau menambahkan data berdasarkan
pengetahuan sendiri, padahal untuk menjawab pertanyaan penulis soal telah
memberikan data yang cukup, tidak perlu penambahan data yang lainnya. Soal yang
datanya kurang akan gugur dengan sendirinya pada saat soal itu di review atau
soal itu diuji cobakan (try out).
g.
Jawablah
sesuai dengan pertanyaan, Menjawab sesuai
pertanyaan yang diminta, jawaban yang benar hanya ada satu dan yang lainnya
merupakan distraktor atau pengecoh. Hati-hati dalam menjawab, tapi jangan
pernah meninggalkan atau tidak memberikan jawaban. Semua soal harus dijawab,
tidak boleh ditinggalkan kosong begitu saja, karena dengan mengisi berarti
memiliki peluang sebanyak 20% untuk benar dibandingkan dengan tidak diberikan
jawaban.
Panik
Fokus
perhatian orang yang panik biasanya menyempit, orang tersebut akan sangat fokus
kepada hal yang kecil. Panik juga akan menghilangkan kemampuan menilai
seseorang, sehingga yang seharusnya bisa menjadi tidak bisa. Bagaimana jika ada
masalah? Tarik napas, acungkan tangan. Pasti petugas yang sedang bekerja akan
membantu kesulitan anda, tentunya bukan kesulitan dalam mengisi soal. Mereka akan membantu apabila ada masalah tehnis misalnya, komputer mati, password
tidak sesuai termasuk juga jika anda tidak bisa mengoperasikan komputer.
x
Uji Kompetensi Bagi Mahasiswa
Uji Kompetensi merupakan tahapan akhir bagi
seorang perawat dari D3 maupun Ners untuk mendapatkan kualifikasi kompeten. Uji
kompetensi ini yang selanjutnya di sebut dengan uji kompetensi, merupakan momok
yang sangat menakutkan bagi setiap orang yang akan menghadapinya terutama bagi
mahasiswa yang tidak memiliki persiapan. Pada tahun 2017
sebanyak 7 ribuan saja yang kompeten dari 21 ribuan yang mendaftar pada uji
kompetensi terakhir.
Uji Kompetensi merupakan tahapan akhir bagi
seorang perawat dari D3 maupun Ners untuk mendapatkan kualifikasi kompeten. Uji
kompetensi ini yang selanjutnya di sebut dengan uji kompetensi, merupakan momok
yang sangat menakutkan bagi setiap orang yang akan menghadapinya terutama bagi
mahasiswa yang tidak memiliki persiapan. Pada tahun 2017
sebanyak 7 ribuan saja yang kompeten dari 21 ribuan yang mendaftar pada uji
kompetensi terakhir.
Pada
tahun 2017 sebanyak 7 ribuan saja yang kompeten dari 21
ribuan yang mendaftar pada uji kompetensi terakhir.
Apakah
benar banyak mahasiswa tidak memiliki persiapan saat mau ujian? Secara kasar
sebagian besar mahasiswa tidak memiliki persiapan. Akan tetapi jika ditelisik
lebih dalam sesungguhnya mereka sudah melakukan persiapan. Persiapan yang
dilakukan berupa belajar selama 3 tahun untuk D3 dan 4-5 tahun untuk Ners. Jika
mahasiswa selama itu untuk mempersiapkan uji kompetensi, tetapi mengapa banyak
mahasiswa yang gagal dalam uji kompetensi?
Tentu
sangat menarik jika kita mencari tahu mengapa banyak sekali yang tidak
kompeten, dan pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah apakah kualitas
pembelajaran atau perkuliahan diseluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia
sama?
Bagi
pendidikan tinggi yang sudah hebat dan memiliki akreditasi yang ungul, uji
kompetensi tidak jadi persoalan, karena sudah memiliki kualitas perkuliahan
akademik maupun praktek yang sangat baik. Sehingga tidak jarang mahasiswa
mereka lulus 100%. Kebalikannya bagi pendidikan yang tidak memiliki qualifikasi
sebaik pendidikan tinggi yang besar, uji kompetensi merupakan monster yang
menakutkan, sehingga ada perguruan tinggi yang kelulusannya 0%.
Terdapat
hubungan antara akreditasi perguruan tinggi dengan tingkat kelulusan mahasiswa
di uji kompetensi, Rata-rata kelulusan institusi dengan dengan akreditasi A
adalah 85%, akreditasi B rata-rata kelulusannya 65% dan institusi dengan
akreditasi C rata-rata kelulusannya 45% (Masfuri, 2017).
Tingkat
kelulusan uji kompetensi sangat berpengaruh terhadap nilai akreditasi sebuah perguruan
tinggi. Tingkat kelulusan ini menjadi bagian dari penilaian sebuah perguruan
tinggi. Tingkat kelulusan lebih dapat menggambarkan bagaimana kualitas
pembelajaran di banding akreditasi, selain itu juga dapat motret kualitas
proses akademik yang berlangsung.
Tentu
bukan tindakan bijaksana saling menyalahkan dan saling menyalahkan atas
kegagalan di mahasiswa yang mengikuti uji kompetensi. Dibawah ini terdapat
beberapa penyebab mengapa mahasiswa gagal dalam uji kompetensi
Nasib
Jika membicarakan sebuah
kejadian dan dikaitkan dnegan nasib maka kita sudah tidak bisa
ngomong apa-apa lagi. Dalam beberapa kejadian yang ada di uji kompetensi,
nasib ikut menentukan peran. Sebagai contoh kasus yang menimpa mahasiwa saya, mahasiswa tersebut sangat rajin pada saat kegiatan
akademik dan profesi. Dia mengejakan soal dengan baik. Akan tetapi diakhir ujian semua hasil pekerjaan dia tidak ada satupun
yang tersimpan di sistem. Apa yang terjadi kemudian adalah mahasiswa tersebut
ujian ulang. Hasilnya sudah bisa dibayangkan, stress, cape, tidak focus.
Mahasiswa itu gagal. Apakah hanya dia yang gagal saving? Ya, mahasiswa lain
yang satu sesi dengan dia, tidak ada masalah dengan sistem. Disinilah perlunya
berdo’a, kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi
Kurang persiapan
Yang dimaksud dengan kurang persiapan adalah
mahasiswa belum memiliki kesiapan mental dan keilmuan. Mahasiswa yang pintar
belum tentu lulus secara otomatis, jika yang bersangkutan secara mental tidak
siap untuk mengerjakan soal selama 3 (tiga) jam.
Persiapan
mental mutlak diperlukan, apalagi mahasiswa yang pernah mengalami kegagalan di
uji kompetensi sebelumnya. Tekanan mental yang dihadapi mereka jauh lebih kuat
dibanding dengan yang baru pertama kali mengikuti uji kompetensi. Mahasiswa
retaker atau mahasiswa yang pada ujian pertama (first taker)
belum kompeten, mereka mengalami kecemasan dan risiko untuk gagal lebih tinggi
dibanding dengan first takers. Mahasiswa retakers sudah hanya memiliki
kesempatan untuk kompeten sebesar 5 – 16% dan secara nasional untuk first taker
hanya kompeten sebanyak 40% an.
Mahasiswa retaker harus diberikan kesempatan memperbaiki
dirinya terlebih dahulu, karena yang bersangkutan memiliki kemungkinan tidak
kompeten lebih tinggi. Jika mungkin sertakan lagi retaker untuk mengikuti try
out, sehingga dapat diketahui bagaimana sebenarnya kekuatan dan kelemahan
mereka. Setelah diketahui, barulah melakukan persiapan atau tindakan untuk
menanggulangi masalah kemampuan mereka.
Retakers tidak bisa diberikan
intervensi secara general, mereka harus diberikan tindakan secara individu.
Setiap retaker memiliki kekurangan yang berbeda beda dalam penguasaan materi
uji komptensi. Pendekatan pengkayaan sebelum uji kompetensi secara bersamaan
bisa dilakukan hanya untuk penjelasan umum dari materi uji kompetensi. Akan
tetapi apabila sudah masuk kepada materi per mata kuliah, peserta retaker dan
mahasiswa yang sudah mengikuti try out harus diberikan perbaikan atau
pengkayaan pada materi-materi tertentu saja, yaitu pada materi yang paling
dinggi soalnya dan materi yang paling tidak dimengerti soal-soalnya. Untuk
materi yang sudah dikuasai, biarkan mereka membuat catatan secara mandiri atau
merupakan pilihan.
Filosofi tukang tambal ban dapat
digunakan untuk mengatasi permasalahan di retakers dan atau di fisrt takers,
periksa dulu keseluruhan baru tentukan masalahnya dimana. Seorang tambal ban
akan memeriksa semua bagian ban, baru kemudian menambal yang bolong. Dengan
filosofi tersebut, mahasiswa retakers disuruh mengkaji semua kemampuan melalui
try out, baru kemudian diberikan penguatan di tempat yang masih lemah.
Selain
kemampuan penguasaan materi yang harus diperhatikan, kemampuan menjaga
kecemasan atau mengatasi masalah juga harus diketahui. Kecepatan menerima dan
memahami kekurangan diri, merupakan cara terbaik untuk seseorang saat jatuh.
Sama halnya orang yang gagal di uji kompetensi, mereka yang memiliki jiwa
pantang menyerah, akan gigih memperjuangkan cita cita mereka.
Thursday, 25 January 2018
TIP DAN TRIK ANTI TIDAK KOMPETEN
TIPS TRIK ANTI GAGAL DI UJI KOMPETENSI
(Seri 2)
Oleh
Hendi Kanduru
Kegagalan dalam ukom merupakan kegagalan pendidikan yang dilakukan selama ini. Pada seri pertama saya sudah menjelaskan apa yang harus dilakukan supaya terhindar dari tidak kompeten.
Beberapa triks dan tips yang bisa digunakan, untuk mengurangi kemungkinan gagal dalam uji kompetensi pada saat pelaksanaan yaitu
- Patuhi tata tertib cara berpakaian, di uji kompetensi pakaian sudah ditentukan, dan diberitahu saat briefing.
- Datang briefing sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Briefing dilakukan untuk mahasiswa dan pengawas lokal yang diberikan oleh pengawas pusat, sebagai perpanjangan panitia uji kompetensi. Briefing sifatnya wajib, yang tidak mengikuti briefing tidak diperkenankan untuk mengikuti uji kompetensi, baik untuk pengawas maupun untuk mahasiswa.
- Datang ketempat ujian sesuai dengan waktu yang ditentukan. Waktu datang ke tempat ujian sejam sebelumnya. Walaupun di tata tertib disebutkan bahwa mahasiswa boleh masuk pada saat sebelum log in yang kedua, bagi yang menggunakan computer based test, akan tetapi akan lebih baik apabila datang lebih awal. Datang lebih awal memiliki keuntungan diantaranya, dapat istiraha terlebih dahulu, mengenal tempat ujian lebih dalam terutama bagi yang ujiannya tidak di kampus sendiri.
- Datang sebelum log in kedua (pada ujian Computer Based Test), seperti yang sudah dijelaskan pada no sebelumnya.
- Gunakan pensil 2b (pada ujian Paper Based Test), bawa pensil 2b lebih dari satu. Runcingkan kedua ujungnya. Sehingga jika tumpul masih ada ujung yang lain dan tidak kehilangan waktu. Jika memungkinkan, tannyakan kepada pengawas pusat, apakah menggunakan pensil mekanik diperkenankan? Jika diperkenankan bawalah, gunakan pensil mekanik, krn anda tidak akan kehilangan waktu untuk meraut atau menajamkan pensil dan pekerjaan biasanya lebih rapi.
- Pastikan semua jawaban diisi, walaupun nembak. Menjawab soal semuanya memberikan peluang yang tinggi untuk mendapatkan nilai. Di uji kompetensi tidak mengenal pengurangan nilai kalau salah. Jadi isi semua, walupun anda harus menembak. Gunakan insting dalam menjawab, insting yang pertama biasanya benar. Jangan dirubah sampai anda yakin mendapatkan jawaban yang 100% benar.
- Tandai jawaban yang masih ragu-ragu, yang ragu ragu dianggap sudah di isi. Pastikan anda mengganti soal ragu-ragu setelah mendapatkan keyakinan bahwa jawaban ragu ragu salah dan anda sudah mendapatkan jawaban yang benar.
- Jika dalam 20 detik tidak bisa memahami maksud soal, segera pindah, terlalu lama pada soal yang tidak dimengerti, akan menyebabkan anda kehilangan waktu banyak, dan yang mudah akan anda lewatkan, dan yang paling penting anda akan mengalami kecemasan, karena kecemasan itu maka soal berikutnya yang mudah akan menjadi sulit.
- Isi dulu jawaban yang mudah, mengisi yang mudah memberikan peluang rasa senang kepada diri anda dan menyebabkan stress berkurang.
Dapatkan tips triks uji kompetensi selanjutnya dengan gabung di channel telegram @infokanduru
Subscribe to:
Posts (Atom)
Etika dalam Keperawatan
Ada 8 prinsip etika keperawatan yang wajib diketahui oleh perawat dalam memberikan layanan keperawatan kepada individu, kelompok/keluarga, ...
-
Oleh Hendi Kanduru Telegram @hendikanduru Memahami blueprint uji kompetensi merupakan bagian yang sangat penting bagi mahasiswa yang ak...
-
Pernah ada yang bertanya seorang mentor di sebuah group ukom, @hendikanduru itu latar belakangnya apa? Saya jawab sekarang 1. Saya seoran...
-
Sebuah soal yang mungkin bisa jadi perhatian teman teman. Seorang laki-laki berusia 44 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluha...
