Tuesday, 3 July 2018

Etika dalam Keperawatan

Ada 8 prinsip etika keperawatan yang wajib diketahui oleh perawat dalam memberikan layanan keperawatan kepada individu, kelompok/keluarga, dan masyarakat.
  1. Otonomi (Autonomi) prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa mampu memutuskan sesuatu dan orang lain harus menghargainya. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Salah satu contoh yang tidak memperhatikan otonomi adalah Memberitahukan klien bahwa keadaanya baik,padahal terdapat gangguanatau penyimpangan
  2. Beneficence (Berbuat Baik) prinsip ini menentut perawat untuk melakukan hal yan baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau kejahatan. Contoh perawat menasehati klien tentang program latihan untuk memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi perawat menasehati untuk tidak dilakukan karena alasan resiko serangan jantung.
  3. Justice (Keadilan) nilai ini direfleksikan dalam praktek professional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. Contoh ketika perawat dinas sendirian dan ketika itu ada klien baru masuk serta ada juga klien rawat yang memerlukan bantuan perawat maka perawat harus mempertimbangkan faktor-faktor dalam faktor tersebut kemudian bertindak sesuai dengan asas keadilan.
  4. Non-maleficence (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh ketika ada klien yang menyatakan kepada dokter secara tertulis menolak pemberian transfuse darah dan ketika itu penyakit perdarahan (melena) membuat keadaan klien semakin memburuk dan dokter harus mengistrusikan pemberian transfuse darah. akhirnya transfuse darah ridak diberikan karena prinsi beneficence walaupun pada situasi ini juga terjadi penyalahgunaan prinsi nonmaleficince.
  5. Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan cuman dimiliki oleh perawat namun harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien mengerti. Informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan objektif. Kebenaran merupakan dasar membina hubungan saling percaya. Klie memiliki otonomi sehingga mereka berhak mendapatkan informasi yang ia ingin tahu. Contoh Ny. S masuk rumah sakit dengan berbagai macam fraktur karena kecelakaan mobil, suaminya juga ada dalam kecelakaan tersebut dan meninggal dunia. Ny. S selalu bertanya-tanya tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan kepada perawat untuk belum memberitahukan kematian suaminya kepada klien perawat tidak mengetahui alasan tersebut dari dokter dan kepala ruangan menyampaikan intruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam hal ini dihadapkan oleh konflik kejujuran.
  6. Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab besar seorang perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.
  7. Confidentiality (Kerahasiaan) kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. Dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan klien. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.
  8. Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas adalah standar yang pasti bahwa tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanda tekecuali. Contoh perawat bertanggung jawab pada diri sendiri, profesi, klien, sesame teman sejawat, karyawan, dan masyarakat. Jika perawat salah memberi dosis obat kepada klien perawat dapat digugat oleh klien yang menerima obat, dokter yang memberi tugas delegatif, dan masyarakat yang menuntut kemampuan professional.

    Dalam berupa rekaman dapat di Akses di Klik Disini MP3

Tuesday, 19 June 2018

Tip dan Trik Anti Gagal di Uji Kompetensi

Kegagalan yang menimpa meruapakan hal yang tidak pernah dibayangkan oleh seorang mahasiswa yang belajar selama beberapa tahun dengan mengorbankan sumberdaya yang dimiliki.

Untuk menghindari kegagalan seharusnya mahasiswa mempersiapan sebagai berikut.
1. Belajar yang baik, merupakan tugas seorang mahasiswa untuk belajar sebaik-baiknya. Belajar yang baik harus memiliki strategi, tidak cukup hanya mendengarkan atau mencatat tetapi harus dilakukan dengan cara menggunakan semua potensi dan indra yang ada. Tehnik belajar yang baik akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.
2. Pahami blueprint uji kompetensi, memahami blueprint uji kompetensi merupakan hal penting karena apa saja yang harus dipelajari ada di blueprint uji kompetensi ners dan perawat. Wajib memahami blueprint.
3. Latihan dengan soal standar uji kompetensi, tidak semua mahasiswa mempunyai dan menggunakan soal standar uji kompetensi untuk berlatih. Yang menyebabkan kaget saat uji kompetensi. Kaget karena penulisan soal, jumlah kata dan banyak jebakan serta jawaban dirasakan benar semua.
4. Belajar bersama setelah sebelum membaca materi yang akan dibahas, belajar bersama baik akan tetapi kalau belajar bersama tidak membaca materi yang akan dipelajari sama dengan buang buang waktu.
5. Mengikuti try out untuk mengukur kemampuan dan mengenal sistem serta menentukan strategi belajar.
6. Belajar dengan menggunakan buku sumber yang baik, tidak semua buku yang beredar memenuhi standar uji kompetensi
7. Minta soal yang sudah direview oleh dosen, tentu dosen memiliki contoh soal yang baik, karena biasanya dosen membuat soal uji kompetensi yang akan disetor ke bank soal wilayah dan nasional.

Kegagalan dalam ukom merupakan kegagalan pendidikan yang dilakukan selama ini. Pada seri pertama saya sudah menjelaskan apa yang harus dilakukan supaya terhindar dari tidak kompeten.

Beberapa triks dan tips yang bisa digunakan, untuk mengurangi kemungkinan gagal dalam uji kompetensi pada saat pelaksanaan yaitu
1. Patuhi tata tertib cara berpakaian, di uji kompetensi pakaian sudah ditentukan, dan diberitahu saat briefing.
2. Datang briefing sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Briefing dilakukan untuk mahasiswa dan pengawas lokal yang diberikan oleh pengawas pusat, sebagai perpanjangan panitia uji kompetensi. Briefing sifatnya wajib, yang tidak mengikuti briefing tidak diperkenankan untuk mengikuti uji kompetensi, baik untuk pengawas maupun untuk mahasiswa.
3. Datang ketempat ujian sesuai dengan waktu yang ditentukan. Waktu datang ke tempat ujian sejam sebelumnya. Walaupun di tata tertib disebutkan bahwa mahasiswa boleh masuk pada saat sebelum log in yang kedua, bagi yang menggunakan computer based test, akan tetapi akan lebih baik apabila datang lebih awal. Datang lebih awal memiliki keuntungan diantaranya, dapat istiraha terlebih dahulu, mengenal tempat ujian lebih dalam terutama bagi yang ujiannya tidak di kampus sendiri.
4. Datang sebelum log in kedua (pada ujian Computer Based Test), seperti yang sudah dijelaskan pada no sebelumnya.
5. Gunakan pensil 2b (pada ujian Paper Based Test), bawa pensil 2b lebih dari satu. Runcingkan kedua ujungnya. Sehingga jika tumpul masih ada ujung yang lain dan tidak kehilangan waktu. Jika memungkinkan, tannyakan kepada pengawas pusat, apakah menggunakan pensil mekanik diperkenankan? Jika diperkenankan bawalah, gunakan pensil mekanik, krn anda tidak akan kehilangan waktu untuk meraut atau menajamkan pensil dan pekerjaan biasanya lebih rapi.
6. Pastikan semua jawaban diisi, walaupun nembak. Menjawab soal semuanya memberikan peluang yang tinggi untuk mendapatkan nilai. Di uji kompetensi tidak mengenal pengurangan nilai kalau salah. Jadi isi semua, walupun anda harus menembak. Gunakan insting dalam menjawab, insting yang pertama biasanya benar. Jangan dirubah sampai anda yakin mendapatkan jawaban yang 100% benar.
7. Tandai jawaban yang masih ragu-ragu, yang ragu ragu dianggap sudah di isi. Pastikan anda mengganti soal ragu-ragu setelah mendapatkan keyakinan bahwa jawaban ragu ragu salah dan anda sudah mendapatkan jawaban yang benar.
8. Jika dalam 20 detik tidak bisa memahami maksud soal, segera pindah, terlalu lama pada soal yang tidak dimengerti, akan menyebabkan anda kehilangan waktu banyak, dan yang mudah akan anda lewatkan, dan yang paling penting anda akan mengalami kecemasan, karena kecemasan itu maka soal berikutnya yang mudah akan menjadi sulit.
9. Isi dulu jawaban yang mudah, mengisi yang mudah memberikan peluang rasa senang kepada diri anda dan menyebabkan stress berkurang.
Dapatkan tips triks uji kompetensi selanjutnya dengan gabung di channel telegram @infokanduru

Sunday, 8 April 2018

Pertanyaan Yang Sering Di Ajukan Mahasiswa Tentang Uji Kompetensi


1.     Apakah bisa mendapatkan status kompeten dengan jalan belakang?

Tidak bisa, uji kompetensi dirancang untuk menentukan tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi minimal untuk menjadi tenaga kesehatan yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Akan sangat berbahaya apabila orang yang tidak kompeten memberikan pelayanan kepada masyarakat.

2.     Mahasiswa sudah melewati proses akademik dan atau profesi, dan sudah dinyatakan lulus secara institusi mengapa harus ada uji kompetensi lagi?

Memang benar mahasiswa sudah lulus dari institusinya, akan tetapi aturan menghendaki mahasiswa yang baru lulus harus mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat uji kompetensi sebagai syarat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) sebagai tenaga kesehatan baru.

3.     Apakah yang tidak kompeten setelah mengikuti uji kompetensi lebih dari 5 kali akan mendapatkan pemutihan?

Sampai saat ini tidak ada program pemutihan bagi mahasiswa yang belum kompeten, walaupun sudah beberapa kali mengikuti uji kompetensi.

4.     Apakah ada batasan untuk mengikuti uji kompetensi?

Tidak ada, selama masih ingin menjadi tenaga kesehatan dan bekerja di instansi kesehatan, maka yang bersangkutan bisa mengikuti uji kompetensi.

5.     Apakah tidak ada kebijakan lain, bagi perawat yang hampir pensiun?

Tidak ada, mengikuti uji kompetensi merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan status kompeten. Pensiun atau purna tugas bukan berarti yang bersangkutan berhenti dari profesinya, dengan memiliki STR maka seseorang masih dapat bekerja di tatanan kesehatan lainnya.



6.     Apakah uji kompetensi bisa diganti dengan ujian lain?

Untuk mahasiswa mulai tahun 2013, uji kompetensi hanya dilakukan dengan mengikuti uji kompetensi seperti saat ini. Uji kompetensi saat ini hanya dilakukan melalui dua cara yaitu Paper Base Test (PBT) dan Computer Base Test (CBT). Kedepan pemerintah sudah merencanakan untuk menambah jenis ujian dengan dimasukannya Objective Structure Clinical Examination (OSCE) atau ujian praktek.

7.     Apakah ada kisi-kisi soal uji kompetensi?

Ada, yaitu blueprint uji kompetensi. Blueprint digunakan dalam membuat paket soal yang akan diujikan, membuat soal dari sejak tingkat perguruan tinggi, panduan mahasiswa dalam menentukan strategi dan materi belajar untuk menghadapi uji kompetensi (lampiran).

8.     Apakah dibolehkan tidak mengikuti briefing?

Briefing merupakan kewajiban yang harus diikuti peserta yang akan try out maupun yang akan melaksanakan uji kompetensi. Brifieng tidak hanya untuk perserta tetepi juga bagi komponen ujian lainnya seperti pengawas lokal, koordinator cbt, petugas teknologi informasi. Peserta yang tidka mengikuti briefing tidak diperkenankan mengikuti uji kompetensi.

9.        Apakah bisa pindah tempat uji kompetensi?

Bisa, proses kepindahan dapat dilakukan dengan mengajukan tempat uji kompetensi oleh kampus kepada panitia uji kompetensi, setelah pendaftaran uji kompetensi dibuka. Alasan kepindahan biasanya karena tempat uji kompetensi terlalu jauh dari tempat tinggal sekarang. Misalnya mahasiswa yang kuliah di Pulau Jawa yang berasal dari luar jawa dapat mengajukan perpindahan tempat ujian. Dengan syarat, tempat yang dituju tidak penuh.


Bisa, kompeten atau tidak tergantung dari usaha yang bersangkutan dalam mempersiapkan uji kompetensi. Beberapa penelitian menunjukan bahwa orang yang pernah uji kompetensi dan gagal, tingkat kelulusannya hanya 5 – 16%. Sementara orang yang tidak kompeten saat di try out, tingkat kelulusannya hanya 10%. Akan tetapi dengan belajar benar tingkat kelulusan ini dapat ditingkatkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 105 mahasiswa yang mengikuti survey, ini gambaran pada uji kompetensi yang keberapa mereka kompeten. Gambar 1 dibawah ini menunjukan bahwa yang lebih banyak kompeten adalah orang yang pernah mengikuti uji kompetensi lebih dari 2 kali. Dengan kata lain, mahasiswa yang mau belajar, tidak peduli berapa kali sebelumnya mengikuti uji kompetensi, mereka bisa kompeten.

Monday, 26 February 2018

Strategi belajar yang salah bisa membuat tidak kompeten




x
Kegagalan dalam uji kompetensi bukan karena yang bersangkutan yang tidak belajar, akan tetapi karerena mereka belajar yang salah. Beberapa strategi belajar yang salah diantaranya:
a.    Terlalu menekankan kepada tanya jawab atau membahas soal-soal, sementara pemahaman terhadap materi sangat kurang. Jika terpaksa anda harus belajar dengan cara tanya jawab, lakukanlah! Itu lebih baik daripada anda tidak belajar sama sekali. Tapi, ingat buat catatan dari tanya jawab tersebut, terutama hal-hal yang belum anda mengerti, kemudian cari sumber bacaan dari masalah yang sedang dihadapi tersebut.
b.    Tidak memiliki dasar pemahaman yang kuat, tetapi memilih untuk diskusi yang akhirnya diskusi melenceng.
c.     Diskusi yang tidak didasarkan kepada kemampuan sendiri akan menyebabkan nilai anda tidak pernah naik, gunakan diskusi untuk meningkatkan pemahaman. Gampangnya tanya pada orang lain apa yang anda tidak mengerti atau tidak faham, tidak usah mendiskusikan sesuatu yang sudah anda mengerti, kecuali anda diminta untuk menjelaskan pemahaman anda tentang sebuah permasalahan.
d.    Membahas soal soal yang tidak terstandarisasi uji kompetensi, misalnya menggunakan buku soal yang mengacu kepada ujian perawat luar negeri. Banyak buku yang menjelaskan dan memaparkan soal-soal uji kompetensi, akan tetapi tidak semua buku menganut kepada kaidah penulisan soal yang sudah di berikan oleh panitia uji kompetensi nasional. Hati-hati dalam menggunakan sumber, lebih baik anda minta kepada dosen contoh-contoh soal yang sudah di review atau tanya orang yang pakar di bidang itu.
e.    Tidak memiliki catatan yang baik merupakan kendala dalam belajar, sehingga tidak bisa mengetahui apa yang sudah dipelajari dan apa yang belum dipelajari. Buatlah catatan seringkas mungkin dengan metode yang telah teruji dapat meningkatkan pemahaman dalam belajar. Penulis menganjurkan anda untuk menggunakan mind mapping dari Tonny Buzzan.

Terlalu tergesa-gesa menyebabkan kerugian



x
Sifat yang terlalu tergesa-gesa dapat menyebabkan seseorang tidak cermat dalam memilih jawaban. Pengalaman mahasiswa menunjukan bahwa ketergesaan ini dapat menyebabkan pengamatan terhadap data menjadi tidak cermat. Ketergesaan ini juga disebabkan mahasiswa pernah mendapatkan soal yang mirip sebelumnya dalam latihan, akan tetapi perlu diingat, kemungkinan penambahan data yang dilakukan pembuat soal bisa saja terjadi sehingga kecermatan dalam menjawab perlu dilakukan. Bagaimana cara menghindarinya? Terdapat beberapa tindakan untuk menghindari ketergesaan kita, yaitu:
a.    Focus kepada soal yang sedang dihadapi
b.    Ingat sebuah soal didesain untuk dikerjakan dalam waktu 1 menit.
c.     Baca pertanyaan yang diminta oleh soal, kemudian baca kasusnya. Mengapa harus membaca pertanyaannya terlebih dahulu? Supaya tidak 2 (dua) kali membaca kasus. Misalnya, pada saat pertanyaan meminta apa yang dilakukan pada saat pengkajian, mau tidak mau kita harus membaca dengan teliti apa yang sudah dilakukan dana apa yang belum dilakukan.
d.    Tentukan masalahnya apa dari setiap kasus. Sebuah soal kadang bertanya tentang apakah evaluasi keperawatan yang harus dilakukan, padahal tidak disebutkan masalah utama yang ada pada soal tersebut. Jika anda tidak mengetahui masalah yang utama (prioritas) maka anda akan salah dalam menjawab. Sangat penting memahami apa masalah apa yang ada dalam kasus tersebut. 
e.    Jangan membuat interpretasi pada sebuah soal, gunakan saja data yang ada di soal tersebut. Kesalahan terbesar dalam menjawab soal uji kompetensi adalah membuat interpretasi, atau menambahkan data berdasarkan pengetahuan sendiri, padahal untuk menjawab pertanyaan penulis soal telah memberikan data yang cukup, tidak perlu penambahan data yang lainnya. Soal yang datanya kurang akan gugur dengan sendirinya pada saat soal itu di review atau soal itu diuji cobakan (try out).
f.      Jawablah sesuai dengan pertanyaan, Menjawab sesuai pertanyaan yang diminta, jawaban yang benar hanya ada satu dan yang lainnya merupakan distraktor atau pengecoh. Hati-hati dalam menjawab, tapi jangan pernah meninggalkan atau tidak memberikan jawaban. Semua soal harus dijawab, tidak boleh ditinggalkan kosong begitu saja, karena dengan mengisi berarti memiliki peluang sebanyak 20% untuk benar dibandingkan dengan tidak diberikan jawaban.

Sunday, 25 February 2018

Penyebab Kegagalan di Ukom


Berlatih dengan sumber yang kurang tepat
Dalam menjawab soal uji kompetensi mahasiswa perlu latihan mengenal soal-soal yang baik yaitu yang memiliki standar yang sama dengan soal yang akan mereka hadapi di uji kompetensi nanti. Akan tetapi pada kenyataanya tidak semua mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berlatih dengan soal seperti itu. Mereka banyak berlatih menggunakan sumber yang kurang tepat. Apa yang dimaksud dengan sumber kurang tepat? Yang dimaksud dengan sumber yang kurang tepat adalah belajar dengan menggunakan soal-soal yang belum direview atau   menggunakan buku yang tidak menggunakan standar penulisan yang telah ditentukan. Mahasiswa dapat mendapatkan soal yang sudah direview dari dosen yang mengikuti kegiatan review di regional. Karena biasanya diregional suka diadakan kegiatan untuk mereview soal, dan soal itu diberikan kepada dosen-dosen yang mengikuti kegiatan review tersebut.

Sombong
Mengecilkan atau memandang remeh uji kompetensi merupakan tindakan yang sombong. Contoh; datang dengan menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan standar uji kompetensi, dan hasilnya disuruh pulang oleh pengawas.

Kurang Percaya Diri
Kita kadang mendapatkan kenyataan, mahasiswa A terkenal pintar di kampusnya, IPK nya tinggi, akan tetapi tidak lulus saat uji kompetensi. Salah satu penyebabnya adalah kurang percaya diri, mudah gugup. Apalagi tempat uji kompetensinya tidak dikampus sendiri. Yang diperlukan untuk menghadapi uji kompetensi bukan hanya kemampuan keilmuan akan tetapi lebih banyak kepada kemampuan mengelola stress yang dihadapi.

Tidak mengetahui cara membaca soal
Soal dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memisahkan mana yang kompeten mana yang tidak kompeten. Soal uji kompetensi memiliki ketentuan dalam penulisan, jumlah kata, data utama vs data distraktor. Kesemua ini merupakan kesengajaan.

Terlalu tergesa-gesa
Sifat yang terlalu tergesa-gesa dapat menyebabkan seseorang tidak cermat dalam memilih jawaban. Bagaimana cara menghindarinya? Terdapat beberapa tindakan untuk menghindari ketergesaan kita, yaitu:
a.    Focus kepada soal yang sedang dihadapi
b.    Ingat sebuah soal didesain untuk dikerjakan dalam waktu 1 menit.
c.     Baca dengan teliti pertanyaannya baru kemudian kasusnya
d.    Baca pertanyaan yang diminta oleh soal, kemudian baca kasusnya. Mengapa harus membaca pertanyaannya terlebih dahulu? Supaya tidak 2 (dua) kali membaca kasus. Misalnya, pada saat pertanyaan meminta apa yang dilakukan pada saat pengkajian, mau tidak mau kita harus membaca dengan teliti apa yang sudah dilakukan dana apa yang belum dilakukan.
e.    Tentukan masalahnya apa dari setiap kasus. Sebuah soal kadang bertanya tentang apakah evaluasi keperawatan yang harus dilakukan, padahal tidak disebutkan masalah utama yang ada pada soal tersebut. Jika anda tidak mengetahui masalah yang utama (prioritas) maka anda akan salah dalam menjawab. Sangat penting memahami apa masalah apa yang ada dalam kasus tersebut. 
f.      Jangan membuat interpretasi pada sebuah soal, gunakan saja data yang ada di soal tersebut. Kesalahan terbesar dalam menjawab soal uji kompetensi adalah membuat interpretasi, atau menambahkan data berdasarkan pengetahuan sendiri, padahal untuk menjawab pertanyaan penulis soal telah memberikan data yang cukup, tidak perlu penambahan data yang lainnya. Soal yang datanya kurang akan gugur dengan sendirinya pada saat soal itu di review atau soal itu diuji cobakan (try out).
g.    Jawablah sesuai dengan pertanyaan, Menjawab sesuai pertanyaan yang diminta, jawaban yang benar hanya ada satu dan yang lainnya merupakan distraktor atau pengecoh. Hati-hati dalam menjawab, tapi jangan pernah meninggalkan atau tidak memberikan jawaban. Semua soal harus dijawab, tidak boleh ditinggalkan kosong begitu saja, karena dengan mengisi berarti memiliki peluang sebanyak 20% untuk benar dibandingkan dengan tidak diberikan jawaban.

Panik
Fokus perhatian orang yang panik biasanya menyempit, orang tersebut akan sangat fokus kepada hal yang kecil. Panik juga akan menghilangkan kemampuan menilai seseorang, sehingga yang seharusnya bisa menjadi tidak bisa. Bagaimana jika ada masalah? Tarik napas, acungkan tangan. Pasti petugas yang sedang bekerja akan membantu kesulitan anda, tentunya bukan kesulitan dalam mengisi soal. Mereka akan membantu apabila ada masalah tehnis misalnya, komputer mati, password tidak sesuai termasuk juga jika anda tidak bisa mengoperasikan komputer.

x

Uji Kompetensi Bagi Mahasiswa

Uji Kompetensi merupakan tahapan akhir bagi seorang perawat dari D3 maupun Ners untuk mendapatkan kualifikasi kompeten. Uji kompetensi ini yang selanjutnya di sebut dengan uji kompetensi, merupakan momok yang sangat menakutkan bagi setiap orang yang akan menghadapinya terutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki persiapan. Pada tahun 2017 sebanyak 7 ribuan saja yang kompeten dari 21 ribuan yang mendaftar pada uji kompetensi terakhir.
Uji Kompetensi merupakan tahapan akhir bagi seorang perawat dari D3 maupun Ners untuk mendapatkan kualifikasi kompeten. Uji kompetensi ini yang selanjutnya di sebut dengan uji kompetensi, merupakan momok yang sangat menakutkan bagi setiap orang yang akan menghadapinya terutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki persiapan. Pada tahun 2017 sebanyak 7 ribuan saja yang kompeten dari 21 ribuan yang mendaftar pada uji kompetensi terakhir.
Pada tahun 2017 sebanyak 7 ribuan saja yang kompeten dari 21 ribuan yang mendaftar pada uji kompetensi terakhir.

Apakah benar banyak mahasiswa tidak memiliki persiapan saat mau ujian? Secara kasar sebagian besar mahasiswa tidak memiliki persiapan. Akan tetapi jika ditelisik lebih dalam sesungguhnya mereka sudah melakukan persiapan. Persiapan yang dilakukan berupa belajar selama 3 tahun untuk D3 dan 4-5 tahun untuk Ners. Jika mahasiswa selama itu untuk mempersiapkan uji kompetensi, tetapi mengapa banyak mahasiswa yang gagal dalam uji kompetensi?

Tentu sangat menarik jika kita mencari tahu mengapa banyak sekali yang tidak kompeten, dan pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah apakah kualitas pembelajaran atau perkuliahan diseluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia sama?
Bagi pendidikan tinggi yang sudah hebat dan memiliki akreditasi yang ungul, uji kompetensi tidak jadi persoalan, karena sudah memiliki kualitas perkuliahan akademik maupun praktek yang sangat baik. Sehingga tidak jarang mahasiswa mereka lulus 100%. Kebalikannya bagi pendidikan yang tidak memiliki qualifikasi sebaik pendidikan tinggi yang besar, uji kompetensi merupakan monster yang menakutkan, sehingga ada perguruan tinggi yang kelulusannya 0%.
Terdapat hubungan antara akreditasi perguruan tinggi dengan tingkat kelulusan mahasiswa di uji kompetensi, Rata-rata kelulusan institusi dengan dengan akreditasi A adalah 85%, akreditasi B rata-rata kelulusannya 65% dan institusi dengan akreditasi C rata-rata kelulusannya 45% (Masfuri, 2017). 
Tingkat kelulusan uji kompetensi sangat berpengaruh terhadap nilai akreditasi sebuah perguruan tinggi. Tingkat kelulusan ini menjadi bagian dari penilaian sebuah perguruan tinggi. Tingkat kelulusan lebih dapat menggambarkan bagaimana kualitas pembelajaran di banding akreditasi, selain itu juga dapat motret kualitas proses akademik yang berlangsung.
Tentu bukan tindakan bijaksana saling menyalahkan dan saling menyalahkan atas kegagalan di mahasiswa yang mengikuti uji kompetensi. Dibawah ini terdapat beberapa penyebab mengapa mahasiswa gagal dalam uji kompetensi


Nasib
Jika membicarakan sebuah kejadian dan dikaitkan dnegan nasib maka kita sudah tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Dalam beberapa kejadian yang ada di uji kompetensi, nasib ikut menentukan peran. Sebagai contoh kasus yang menimpa mahasiwa saya, mahasiswa tersebut sangat rajin pada saat kegiatan akademik dan profesi. Dia mengejakan soal dengan baik. Akan tetapi diakhir ujian semua hasil pekerjaan dia tidak ada satupun yang tersimpan di sistem. Apa yang terjadi kemudian adalah mahasiswa tersebut ujian ulang. Hasilnya sudah bisa dibayangkan, stress, cape, tidak focus. Mahasiswa itu gagal. Apakah hanya dia yang gagal saving? Ya, mahasiswa lain yang satu sesi dengan dia, tidak ada masalah dengan sistem. Disinilah perlunya berdo’a, kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi

Kurang persiapan
Yang dimaksud dengan kurang persiapan adalah mahasiswa belum memiliki kesiapan mental dan keilmuan. Mahasiswa yang pintar belum tentu lulus secara otomatis, jika yang bersangkutan secara mental tidak siap untuk mengerjakan soal selama 3 (tiga) jam.
Persiapan mental mutlak diperlukan, apalagi mahasiswa yang pernah mengalami kegagalan di uji kompetensi sebelumnya. Tekanan mental yang dihadapi mereka jauh lebih kuat dibanding dengan yang baru pertama kali mengikuti uji kompetensi. Mahasiswa retaker atau mahasiswa yang pada ujian pertama (first taker) belum kompeten, mereka mengalami kecemasan dan risiko untuk gagal lebih tinggi dibanding dengan first takers. Mahasiswa retakers sudah hanya memiliki kesempatan untuk kompeten sebesar 5 – 16% dan secara nasional untuk first taker hanya kompeten sebanyak 40% an. 
Mahasiswa retaker harus diberikan kesempatan memperbaiki dirinya terlebih dahulu, karena yang bersangkutan memiliki kemungkinan tidak kompeten lebih tinggi. Jika mungkin sertakan lagi retaker untuk mengikuti try out, sehingga dapat diketahui bagaimana sebenarnya kekuatan dan kelemahan mereka. Setelah diketahui, barulah melakukan persiapan atau tindakan untuk menanggulangi masalah kemampuan mereka.
Retakers tidak bisa diberikan intervensi secara general, mereka harus diberikan tindakan secara individu. Setiap retaker memiliki kekurangan yang berbeda beda dalam penguasaan materi uji komptensi. Pendekatan pengkayaan sebelum uji kompetensi secara bersamaan bisa dilakukan hanya untuk penjelasan umum dari materi uji kompetensi. Akan tetapi apabila sudah masuk kepada materi per mata kuliah, peserta retaker dan mahasiswa yang sudah mengikuti try out harus diberikan perbaikan atau pengkayaan pada materi-materi tertentu saja, yaitu pada materi yang paling dinggi soalnya dan materi yang paling tidak dimengerti soal-soalnya. Untuk materi yang sudah dikuasai, biarkan mereka membuat catatan secara mandiri atau merupakan pilihan.
Filosofi tukang tambal ban dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan di retakers dan atau di fisrt takers, periksa dulu keseluruhan baru tentukan masalahnya dimana. Seorang tambal ban akan memeriksa semua bagian ban, baru kemudian menambal yang bolong. Dengan filosofi tersebut, mahasiswa retakers disuruh mengkaji semua kemampuan melalui try out, baru kemudian diberikan penguatan di tempat yang masih lemah.
Selain kemampuan penguasaan materi yang harus diperhatikan, kemampuan menjaga kecemasan atau mengatasi masalah juga harus diketahui. Kecepatan menerima dan memahami kekurangan diri, merupakan cara terbaik untuk seseorang saat jatuh. Sama halnya orang yang gagal di uji kompetensi, mereka yang memiliki jiwa pantang menyerah, akan gigih memperjuangkan cita cita mereka.

Thursday, 25 January 2018

TIP DAN TRIK ANTI TIDAK KOMPETEN

TIPS TRIK ANTI GAGAL DI UJI KOMPETENSI 
(Seri 2)
Oleh
Hendi Kanduru


Kegagalan dalam ukom merupakan kegagalan pendidikan yang dilakukan selama ini. Pada seri pertama saya sudah menjelaskan apa yang harus dilakukan supaya terhindar dari tidak kompeten. 

Beberapa triks dan tips yang bisa digunakan, untuk mengurangi kemungkinan gagal dalam uji kompetensi pada saat pelaksanaan yaitu
  1. Patuhi tata tertib cara berpakaian, di uji kompetensi pakaian sudah ditentukan, dan diberitahu saat briefing. 
  2. Datang briefing sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Briefing dilakukan untuk mahasiswa dan pengawas lokal yang diberikan oleh pengawas pusat, sebagai perpanjangan panitia uji kompetensi. Briefing sifatnya wajib, yang tidak mengikuti briefing tidak diperkenankan untuk mengikuti uji kompetensi, baik untuk pengawas maupun untuk mahasiswa. 
  3. Datang ketempat ujian sesuai dengan waktu yang ditentukan. Waktu datang ke tempat ujian sejam sebelumnya. Walaupun di tata tertib disebutkan bahwa mahasiswa boleh masuk pada saat sebelum log in yang kedua, bagi yang menggunakan computer based test, akan tetapi akan lebih baik apabila datang lebih awal. Datang lebih awal memiliki keuntungan diantaranya, dapat istiraha terlebih dahulu, mengenal tempat ujian lebih dalam terutama bagi yang ujiannya tidak di kampus sendiri. 
  4. Datang sebelum log in kedua (pada ujian Computer Based Test), seperti yang sudah dijelaskan pada no sebelumnya. 
  5. Gunakan pensil 2b (pada ujian Paper Based Test), bawa pensil 2b lebih dari satu. Runcingkan kedua ujungnya. Sehingga jika tumpul masih ada ujung yang lain dan tidak kehilangan waktu. Jika memungkinkan, tannyakan kepada pengawas pusat, apakah menggunakan pensil mekanik diperkenankan? Jika diperkenankan bawalah, gunakan pensil mekanik, krn anda tidak akan kehilangan waktu untuk meraut atau menajamkan pensil dan pekerjaan biasanya lebih rapi. 
  6. Pastikan semua jawaban diisi, walaupun nembak. Menjawab soal semuanya memberikan peluang yang tinggi untuk mendapatkan nilai. Di uji kompetensi tidak mengenal pengurangan nilai kalau salah. Jadi isi semua, walupun anda harus menembak. Gunakan insting dalam menjawab, insting yang pertama biasanya benar. Jangan dirubah sampai anda yakin mendapatkan jawaban yang 100% benar. 
  7. Tandai jawaban yang masih ragu-ragu, yang ragu ragu dianggap sudah di isi. Pastikan anda mengganti soal ragu-ragu setelah mendapatkan keyakinan bahwa jawaban ragu ragu salah dan anda sudah mendapatkan jawaban yang benar.
  8. Jika dalam 20 detik tidak bisa memahami maksud soal, segera pindah, terlalu lama pada soal yang tidak dimengerti, akan menyebabkan anda kehilangan waktu banyak, dan yang mudah akan anda lewatkan, dan yang paling penting anda akan mengalami kecemasan, karena kecemasan itu maka soal berikutnya yang mudah akan menjadi sulit. 
  9. Isi dulu jawaban yang mudah, mengisi yang mudah memberikan peluang rasa senang kepada diri anda dan menyebabkan stress berkurang.
Dapatkan tips triks uji kompetensi selanjutnya dengan gabung di channel telegram @infokanduru


Wednesday, 13 December 2017

Tidak Kompeten, siapa yang salah?



latar belakang

Apabila kampus sudah melaksanakan kurikulum sesuai dengan ketentuan, maka tidak harus ada persiapan khusus menghadapi uji kompetensi. Apalagi kalau mahasiswa sudah dibiasakan belajar dengan menggunakan soal soal uji kompetensi dalam ujian harian. Kampus yang memiliki Tempat Uji Kompetensi memiliki keuntungan, akan tetapi tidak selamanya yang memiliki Tempat Uji Kompetensi dapat menggunakan keuntungan psikologis mahasiswa untuk meningkatkan kelulusan. Kebanyakan kampus yang sudah mapan yang memiliki Tempat Uji Kompetensi berupa Laboratorium Komputer.
Jika diperhatikan beberapa perguruan tinggi yang memiliki akreditasinya baik akan tetapi hasil uji kompetensinya belum menggembirakan. Padahal hasil akreditasi berbanding lurus dengan kualitas lulusan.
Terdapat beberapa kendala yang menyebabkan kampus tidak bisa optimal, baik dari mahasiswa, dosen maupun pihak pengelola kampus. Ini akan dijelaskan pada tulisan kali ini.


mahasiswa

Beberapa kesalahan umum yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Tidak sungguh sungguh dalam belajar di fase akademik dan atau profesi
Mahasiswa yang susnggung sungguh dalam belajar dari mulai masa akademik sampai dengan masa profesi akan mendapatkan pengetahuan yang baik yang akan menjadi modal untuk menghadapi uji kompetensi. Pengalaman di lahan praktek akan memberikan pengalaman berati. Ingat soal dalam uji kompetensi merupakan soal kasus yang biasa dilakukan atau di temukan di lahan praktek.
2.    Tidak mempersiapkan dengan baik pada saat akan uji kompetensi
Persiapan yang baik diperlukan persiapan ini meliputi persiapan pengetahuan dan psikis serta fisik. Persiapan pengetahuan dilakukan dengan mengecek ulang materi saat kuliah dan atau profesi. Persiapan psikis dilakukan supaya tidak cepat stress, cemas dan persiapan fisik dilakukan karena uji kompetensi akan berlangsung sekitar 4 – 5 jam dari mulai datang sampai dengan karantina dan pulang.
3.    Mengecilkan arti uji kompetensi
Uji kompetensi merupakan kunci mendapatkan Surat Tanda Registrasi, mengecilkan uji kompetensi berarti siap siap untuk tidak mendapatkan pekerjaan.
4.    Tidak memahami blueprint uji kompetensi
Blueprint merupakan kisi kisi uji kompetensi, yang dipergunakan oleh pembuat soal, reviewer soal, pembuat paket soal. Dengan demikian blueprint ini sangat penting dipahami oleh mahasiswa karena mereka pun menggunakan blueprint dalam mempersiapkan uji kompetensi.
5.    Merasa yakin akan langsung kompeten
Merasa yakin karena memiliki IPK yang tinggi merupakan sebuah kesombongan, pada kasus tertentu banyak yang IPK nya tinggi tidak kompeten.
6.    Merasa mampu mengerjakan soal uji kompetensi
Mampu dan merasa mampu sangat berbeda, merasa mampu akan menyebabkan gegabah dalam mengisi soal uji kompetensi, padahal uji kompetensi digunakan untuk mendapatkan syarat untuk bisa bekerja.
7.    Tidak mengikuti try out
Mengikuti try out sangat penting untuk mengetahui kemampuan dan mempelajari bagaimana uji kompetensi itu.
8.    Belajar tidak mengacu pada hasil try out
Hasil try out dapat memberikan gambaran kemampuan mahasiswa saat ini, dengan melihat hasil try out dapat dketahui apakah mahasiswa bisa kompeten atau tidak.
9.    Belajar tidak menggunakan buku yang memenuhi standar soal uji kompetensi
Tidak semua buku mengikuti standar penulisan soal uji kompetensi. Pandailah memilih buku yang baik untuk melakukan persiapan menghadapi uji kompetensi. Mintalah nasihat dari dosen untuk referensi yang baik dalam menghadapi uji kompetensi.
10. Belajar dengan menggunakan soal yang belum di review
Soal yang belum direview jika digunakan untuk belajar akan sangat berbahaya karena tidak memiliki standar yang sama dengan soal uji kompetensi. Jika anda belajar dengan soal yang belum direview, seperti anda akan tinju dengan petinju profesional dan anda berlatih dengan petinju amatir.
11. Belajar bersama tanpa melihat kemampuan pribadi
Belajar bersama sangat baik, akan tetepi kemampuan seseorang berbeda dengan yang lainnya, belajar yang baik adalah dengan menggunakan hasil try out.
12. Tidak memiliki strategi dalam belajar
Belajar perlu strategi yang baik, jangan asal asalan, ikut ikutan, strategi yang baik hanya anda yang mengetahuinya, karena setiap orang berbeda cara belajarnya.
13. Tidak mengikuti brifieng
Brifieng wajib diikuti oleh mahasiswa yang akan mengikuti uji kompetensi. Tidak hadir saat briefing tidak akan diperkenankan untuk mengikuti uji kompetensi.
14. Tidak membawa surat identitas
Identitas berupa ktp, sim akan disamakan dengan identitas atau kartu peserta ujian. Photo copyan ktp tidak berlaku, surat keterangan domisili tidak berlaku.
15. Tidak tepat waktu datang ketempat ujian
Mahasiswa tidak akan diperkenankan untuk memasuki ruang ujian apabila datang setelah ujian dimulai.
16. Menggunakan pakaian yang tidak pada mestinya
Kaos, dan pakaian yang berbahan jean tidak diperkenankan digunakan selama akan mengikuti uji kompetensi. Jaket almamater tidak boleh dipergunakan selama uji kompetensi.
17. Tidak menyetujui ketentuan di uji kompetensi
Sebelum memasuki proses ujian, mahasiswa akan diminta persetujuan untuk mengikuti tata tertib ujian. Jika tidak setuju, maka tidak diperkenankan untuk melanjutkan ujian tetapi tetap tinggal di ruangan sampai waktu ujian 180 menit selesai. Yang tidak setuju pun tetap harus di karantina.
18. Tidak memahami anatomi soal uji kompetensi
Untuk menjawab soal uji kompetensi perlu memahami bagaimana anatomi soal uji kompetensi, supaya tidak terjebak dengan data dan jawaban distraktor.
19. Terlalu lama dalam mengerjakan uji kompetensi
Sebuah soal didesain untuk dapat dikerjakan dalam waktu satu menit, sehingga jika mahasiswa melebihi waktu satu menit dalam mengerjakan satu soal, tentu akan merugikan dirinya, karena waktunya tidak akan cukup.
20. Terlalu cepat dalam membaca soal uji kompetensi
Terlalu cepat membaca soal, menyebabkan tidak mampu mendapatkan ide tulisan dari pembuat soal.
21. Tidak menjawab semua soal uji kompetensi
Membiarkan kososng jawaban tidak diisi sama dengan membuang peluang untuk mendapatkan kesempatan memperoleh jawaban benar.
22. Tidak percaya pada insting yang pertama
Insting pertama biasanya benar, jangan merubah jawaban pertama sebelum yakin 100% jawaban pengganti 100% benar.
23. Salah melakukan tembakan
Jika terpaksa harus nembak gunakan tembakan yang tepat, tembak dengan menggunakan jawaban yang sama.
24. Bekerjasama dengan orang lain
Jumlah paket soal dalam satu ruangan lebih dari 4 paket soal, tentu sangat kecil kemungkinan untuk mengetahui siapa yang memiliki soal yang paketnya sama. Bertanya kepada orang lain sama dengan menyuruh orang lain tidak kompeten, karena akan sangat mengganggu konsenterasi.
25. Terlalu sering ke toilet
Ketoilet boleh dilakukan, tetapi kalau terlalu sering artinya buang buang waktu, padahal selama ke toilet waktu ujian terus berjalan.
26. Mengganggu ketertiban selama ujian
Jika peserta mengganggu ketertiban selama ujian dan mengganggu terselenggaranya ujian, panitia dapat membatalkan kepesertaan ujian mahasiswa tersebut.
27. Tidak menggunakan waktu dengan baik
Penggunaan waktu yang baik sebelu ujian dan selama ujian sangat penting.
28. Tidak mengikuti program yang disediakan oleh kampus
Kampus biasanya menyediakan pengkayaan bagi mahasiswa yang akan mengikuti uji kompetensi, jika tidak dimanfaatkan tentunya sayang sekali.
29. Tidak bisa mengatur waktu antara pekerjaan dan belajar
Alasan mahasiswa tidak kompeten adalah sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada wakt untuk belajar.
Terdapat juga kesalahan yang spesifik sesuai dengan jenis ujiannya Berbasis Komputer (CBT) dan Kertas (PBT).
Kesalahan yang Berbasis Komputer
1.    Salah memasukan username dan password
Masukan username dan passwor dengan hati-hati jangan tergesa gesa, karena kalau salam memasukannya akan menyebabkan kecemasan. Jika diawal saja sudah cemas maka selanjutnya akan semakin meningkat.
2.    Tidak memilih setuju terhadap tata tertib
Menyetujui mengikuti tata tertib merupakan syarat mutlak mengikuti uji kompetensi, jika tidak mau mengikuti tata tertib tidak akan dapat mengikuti ujian.
3.    Terlalu sering membuka lembaran laboratorium
Terlalu sering membuka lembar labratorium menyebabakan anda kehilangan waktu.  
4.    Menutup layar firefox
Uji kompetensi dengan menggunakan komputer, aplikasinya berjalan dengan menggunakan firefox. Apabila firefox di close maka aplikasi tidak bisa berjalan dan harus membuka ulang firefox kemudian log in ulang. Akan tetapi jika tidak sengaja firefox tertutup, maka anda tinggal minta bantuan pengawas, untuk memulihkan pekerjaan anda. Jawaban yang sebelumnya sudah dikerjakan sudah terekam, dan anda tinggal melanjutkan soal yang ada.
5.    Memutuskan aliran listrik
Sumber listrik biasanya disimpan didekat kaki, apabila kaki terkena ke tombol power dapat menyebabkan supply listrik ke komputer terhenti. Segera minta pertolongan kepada pengawas jika ini terjadi
Kesalahan yang Berbasis Kertas
1.    Tidak membawa cadangan pensil
Pensil cadangan sangat diperlukan apabila, pensil utama tumpul dan terjatuh, akan mengurangi waktu apabila anda meruncingkan pensil dan memungut pensil yang jatuh. Begitu pula penghapus, usahakan minimal membawa 2.
2.    Tidak mengisi identitas dengan baik
Mengisi identitas dengan baik pada kolom identitas serta merata dalam melingkari, dapat memudahkan komputer untuk memeriksa jawaban anda. Kebalikannya kalau tidak mengisi dengan baik.
3.    Tidak memberikan bulatan hitam yang rata
Meratakan pekerjaan dalam membulatkan jawaban dapat menyababkan tidak terbacanya jawaban oleh komputer, sehingga akan merugikan anda.
4.    Tidak menghitung jumlah halaman sebelum mengerjakan soal
Hitunglah jumlah halaman sebelum mengerjakan soal, jika kurang segera minta ganti, karena kalau meminta ganti setelah ujian dilaksanakan tidak akan diperbolehkan oleh pengawas.
5.    Tidak mengecek urutan soal sebelum mengerjakan soal
Walaupun jumlah lembar sudah sesuai, sebaiknya urutan soal harus dihitung, bisa jadi lembaran benar, tapi nomor soal tidak berurutan dan tidak lengkap
6.    Tidak mengembalikan soal
Jangan membawa soal saat keluar tempat ujian, sebagian atau seluruhnya, karena akan dihitung ulang.
7.    Tidak menulis kode soal
Tulislah kode soal ini sangat penting dalam pemeriksaan soal jawaban.
8.    Terlalu lama dalam menghitamkan jawaban
Menghitamkan jawaban memang harus rata, tapi juga harus cepat. Semakin lama menghitamkan maka waktu semakin banyak terbuang.

Dosen

Dosen merupakan tenaga pendidikan yang sangat mempengaruhi kepada keberhasilan mahasiswa
1.     Tidak mampu membuat soal yang baik
Tidak semua dosen memiliki kemampuan dalam menulis soal uji kompetensi, dosen diwajibakan untuk mengikuti pekatihan pembuatan soal.
2.     Tidak memahami blueprint uji kompetensi
Dalam menulis soal ada aturannya, mata kuliah mana yang terbanyak, sistem apa yang terbanyak dan lain sebagainya. Tanpa mengikuti aturan tersebut akan sangat sulit dalam menulis soal yang baik.
3.     Tidak memberikan pendekatan individu dalam belajar
Belajar kelompok adalah cara cepat untuk memberikan pembelajaran, akan tetapi bukan cara yang baik untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa secara individu. Bisa jadi apa yang dipelajari sudah dikuasai oleh mahasiswa.
4.     Memberikan soal kepada mahasiswa yang belum di review
Soal yang belum direview minimal ditingkat departemen akan kursng bermanfaat karena dihawatirkan belum memenuhi standar uji kompetensi.
5.     Tidak mampu menggunakan hasil try out untuk menentukan strategi belajar mahasiswa
Belajar yang baik adalah berdasarkan kemampuan mahasiswa, dan try out dapat menggambarkan kemampuan itu.
6.     Menggunakan sumber belajar yang tidak direkomendasikan oleh kurikulum
Asosiasi sudah membuat kurikulum beserta bahan rujukannya, sehingga itu saja yang digunakan sebelum menggunakan buku tambahan lainnya.
7.     Tidak aktif membuat soal uji kompetensi
Membuat soal uji kompetensi yang baik butuh ketelatenan dan kemampuan untuk menuliskan apa yang terjadi di lapangan yang biasa dihadapi oleh perawat.
8.     Tidak aktif mengirimkan soal uji kompetesi ke panitia uji kompetensi
Yang tidak aktif menulis soal uji kompetensi diwilayahnya tidak akan diberikan soal yang sudah direview di regional. Sehingga rajinlah menulis soal yang akan dikirim ke regional.

pengelola

Pengelola dalam hal ini pimpinan perguruan tinggi dan pemilik yayasan juga sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan uji kompetensi
1.    Tidak mempersiapkan mahasiswa untuk mengikuti try out
2.    Tidak memberikan kesempatan kepada dosen untuk mengikuti pelatihan pengembangan dosen
3.    Tidak menggunakan hasil uji komptensi untuk membuat strategi belajar
4.    Tidak menggunakan hasil try out untuk mengevaluasi kemampuan dosen dan mahasiswa
5.    Tidak menyendiakan sarana yang baik untuk mahasiswa
6.    Tidak memberikan penghargaan pada mahasiswa atau dosen yang berprestasi
7.    Tidak memberikan fasilitas yang baik bagi mahasiswa dan dosen
8.    Menganggap uji kompetensi merupakan tanggung jawab mahasiswa
9.    Tidak memiliki tanggung jawab terhadap kualitas mahasiswa
10. Tidak mengadakan program khusus untuk retaker

Mahasiswa, dosen dan pengelola kampus

Ketiga unsur ini harus memiliki visi yang sama dalam mensukseskan visi perguruan tinggi, semua memiliki kewajiban untuk berperan aktif dalam mempersiapkan uji kompetensi. Prosentase kelulusan di uji kompetesi menunjukan kualitas sebuah kampus yang sesungguhnya. Kualitas mahasiswa harus diraih secara bersama sama oleh ketiga unsur tersebut. Hubungan yang baik diantara mereka akan meningkatkan kualitas kampus secara umum.

KOMPETEN ADALAH HARGA DIRI

takdir yang maha kuasa

Selain beberapa kesalahan yang seharusnya dapat diminimalisir terdapat takdir Yang Maha Kuasa yang menentukan seseorang gagal atau tidak.
1.     Mahasiswa tidak bisa melakukan saving jawaban, padahal sebelumnya ada saat uji coba laboratorium dapat bekerja sesuai dengan standar
2.     Sistem tidak bisa merekam aktivitas mahasiswa dan tidak bisa melakukan back up
3.     Listrik mati, yang disebabkan karena instalasi listrik mengalami gangguan.
4.     Terjadi bencana alam pada saat uji kompetensi

Untuk berlangganan artikel silahkan bergabung di:

Group Telegram           :https://t.me/infokanduru
IG, Twitter           : @infokanduru
Facebook            : Kanduru Corp
Blog                     : tipdantrikukom.blogspot.co.id
YouTube   : Uji Kompetensi

Etika dalam Keperawatan

Ada 8 prinsip etika keperawatan yang wajib diketahui oleh perawat dalam memberikan layanan keperawatan kepada individu, kelompok/keluarga, ...